Kamis, 04 Desember 2008

Apakah Anda Siap di Bisnis Distributor ?

Semua yang namanya bisnis perlu waktu untuk sampai ke tahap kesuksesan. Berapa
waktu yang lumrah hingga kita menentukan bahwa kita telah gagal? Apakah tiga
bulan, enam bulan, satu tahun atau bahkan tiga tahun?
Tak ada patokan pasti, berapa waktu yang mesti kita siapkan dalam meniti bisnis.
Bagi yang beragama islam, mungkin satu tahun dimana saat lebaran tiba, maka
berharap kehidupan di tahun berikutnya akan lebih baik.
Belajar, apapun bentuknya, perlu waktu. Belajar secara fisik kadang butuh waktu
lebih lama dibandingkan belajar secara mental. Awalnya, mungkin sedikit sulit
mempersiapkan diri untuk mulai berbisnis. Ketika kita sudah menentukan, butuh
waktu lebih lama lagi untuk belajar menekuni bisnis itu sendiri.
Memulai suatu bisnis, kita harus memastikan bahwa tujuan kita adalah untuk
menjadi seorang pelaku bisnis. Perolehan uang banyak dalam waktu singkat tak bisa
dijadikan tujuan awal saat memulai bisnis, mengapa?
Sebut saja Amir, karyawan yang berhenti bekerja kantoran dan mulai mencoba
macam-macam bisnis. Ia ingin sekali menjadi seorang pemilik bisnis, ia tak mau
selamanya menjadi karyawan yang tergantung sepenuhnya pada perusahaan tempat ia
bekerja. Amir ingin dapat memiliki uang banyak sekaligus waktu luang untuk
menikmati uang tersebut.
Baru setelah tiga bulan mencoba menjalankan bisnis, Amir tidak memperoleh
pendapatan seperti yang diinginkannya. Ia pun mulai mencari lowongan kerja
kantoran lagi.
Apa yang salah dari cerita di atas? Yaitu karena Amir berpatokan pada uang yang
di dapat. Tapi ia tak memperoleh uang yang diharapkan dalam rentang waktu tiga
bulan, lalu merasa bahwa ia telah gagal berbisnis. Sikap itu tak bisa disamakan
dengan mereka yang mempunyai alasan kuat untuk menjadi pelaku bisnis.
Jika seseorang sudah menentukan untuk tak mau selamanya menjadi karyawan dan
mengerti bahwa itu berarti ia harus memulai suatu bisnis sendiri, uang yang ia
hasilkan dalam waktu tiga bulan pertama tersebut tak akan mempengaruhinya untuk
lalu memutuskan kembali bekerja kantoran.
Jika keinginan untuk menjadi pelaku bisnis lebih kuat dari sekedar mencari uang
cepat, maka ia akan tetap bertahan demi membawa bisnisnya kearah kesuksesan.
Seiring bertambahnya usia, maka makin sulit kita melupakan hal-hal yang telah
kita pelajari sekian lama, itulah sebabnya Amir lebih memilih untuk kembali
bekerja kantoran. Karena ia sudah terbiasa merasakan terjaminnya hidup dengan
bekerja kantoran, dan kenyamanan hidup yang diakibatkannya. Sementara ia baru
memiliki tiga bulan pengalaman dalam berbisnis. Itulah salah satu alasan kenapa
banyak orang akhirnya kembali ke dunia kantor.
Lalu apakah mempunyai bisnis perlu modal mahal, karena kita tetap harus punya
uang untuk kehidupan sehari-hari? Benar, bagaimanapun ada harga yang mesti
dibayar selain dalam bentuk materi, seperti waktu dan mental yang kuat. Apa
artinya pengorbanan untuk hidup di bawah garis standart pada beberapa tahun
pertama, bila akhirnya kita mampu mencapai kesuksesan sejauh pendapatan yang tak
terhingga dan waktu luang yang tak terbatas?
Beruntunglah mereka yang saat ini masih menjadi pekerja kantoran, namun terbuka
pikirannya untuk memulai suatu bisnis. Mereka bisa mengandalkan uang gaji bulanan
untuk kebutuhan sehari-hari, sambil menggeluti bisnis sampingan. Bisnis sampingan
lazim memerlukan pengorbanan waktu. Contohnya saat pulang kerja, masih harus
menjalankan bisnis lagi. Melelahkan memang, tapi bukankah hasilnya sebanding
dengan jerih payah?
Tetap bekerja kantoran sambil mulai merintis bisnis adalah cara terbaik, hanya
bila si pelaku sadar benar bahwa tujuan utama adalah untuk membesarkan bisnisnya.
Sehingga apapun yang terjadi, ia tak akan meningggalkan bisnis lalu pasrah untuk
terus menjadi karyawan seumur hidupnya.
Dalam prosesnya, Anda perlu melupakan kenyamanan dan keterjaminan kerja kantoran.
Sehingga pikiran Anda kian terbuka lebar untuk menerima masuknya diri ke dunia
bisnis. Hingga tiba masanya, setelah proses yang demikian panjang, Anda akan
mendapatkan diri Anda telah berada pada posisi seseorang yang berjiwa wirausaha.
Hal penting yang harus diketahui adalah bahwa dalam proses mencari jiwa
wirausaha, akan terjadi banyak kerugian dan kesalahan. Tapi lagi-lagi, kerugian
bukanlah akhir segalanya. Kesalahan adalah proses dari pembelajaran. Anda belajar
dari kerugian, dari kesalahan yang dibuat. Itu juga berarti bahwa Anda tak akan
belajar jika tidak pernah merugi atau membuat kesalahan.
Kegagalan benar-benar bisa disebut kegagalan ketika Anda berniat untuk berhenti
setelah menghadapi kerugian, atau telah melakukan kesalahan tapi tidak
memperbaikinya. Orang yang berhenti setelah melakukan kesalahan pertama berarti
gagal untuk belajar.
Gambaran di atas merupakan salah satu alasan utama mengapa pelaku bisnis Multi
Level Marketing gagal berbisnis. Mereka lebih menginginkan untuk memiliki uang
banyak dalam waktu cepat daripada menginginkan dirinya menjadi seorang pelaku
bisnis.
Bisnis MLM merupakan satu jenis bisnis yang memberikan berbagai kemudahan. Modal
yang relatif kecil, sistem yang sudah terbentuk, dan bisa dijalankan paruh waktu.
Tanpa komitmen, tanpa tujuan yang benar, berarti Anda tidak memberi kesempatan
pada diri sendiri untuk menemukan jiwa wirausaha. Siapkah Anda berkomitmen
menekuni bisnis MLM untuk membawa diri menjadi seorang pelaku bisnis?

Mekanisme Pendirian BMT

1. Pemprakarsa dan Pendamping menyiapkan diri (menginfaqkan waktu, pemikiran dan semangat) untuk menjadi motivator pendirian BMT. Pemrakarsa dan pendamping terlebih dahulu membaca bahan bacaan ini dengan sebaik-baiknya, sehingga diharapkan lebih teliti dan lebih memahami isi dan falsafah (visi, misi, tujuan, usaha dll) yang berada di belakangnya.
Apa Landasan Untuk Memilih Calon-Calon Pendiri BMT? Yaitu setia kawan sekelompok (solidaritas kelompok) dilandasi oleh niat beribadah dan persaudaraan islamiyah (“ukhuwwah islamiyah”), kebersamaan, semangat untuk membela kepentingan bersama masyarakat kecil (pengusaha mikro), orang miskin setempat.
Motivator dan pendamping didampingi tokoh pemrakarsa, misalnya kepala desa atau aparat desa yang lain membuat daftar para tokoh masyarakat yang berpotensi untuk berperan serta dalam mendirikan BMT seperti: pengurus atau aktifis-aktifis dari lembaga-lembaga masyarakat, ormas-ormas Islam, lembaga pendidikan agama, lembaga amal usaha ormas manapun, ICMI, MUI, Dewan Masjid Indonesia, IPHI, Penyuluh Agama Islam, Da’i Muda, Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Persaudaraan Muslimin Indonesia, organisasi-organsasi masyarakat Islam, Karang Taruna, Yayasan dan LSM setempat, dan yang lebih penting adalah juga para aghnia atau hartawan setempat. Susunan Pengurus P3B (Paniatia Penyiapan Pendirian)
Penasehat : Pengaruhnya, menurut urutan penyandang “nama, ilmu, dana dan waktu”
Panitia : memiliki dasar kemampuan mencari dukungan, diterima oleh masyarakat banyak; mengikuti urutan penyandang : “waktu, ilmu/’akal, nama dan dana”. Khusus untuk Bendahara perlu ditunjuk tokoh yang benar-benar mendapat kepercayaan masyarakat, belum pernah tercatat pengalaman hal-hal yang tercela dalam sejarah di lokasi itu;
2. Setelah ide ini berkembang dan direspon oleh 4 – 5 orang aktivis/motivator, maka carilah dukungan tambahan yang lebih besar misalnya dari Tokoh Masyarakat seperti Imam Masjid, atau Ulama yang paling disegani di sekitar wilayah itu, dan dari pejabat yang dituakan seperti Pak Guru, Pak Camat atau Pak Lurah, POKUSMA. Mintalah waktu untuk beranjangsana, kunjungilah secara bersama-sama Tim motivator untuk menyakinkan beliau-beliau itu pada visi, misi, tujuan, usaha, cara kerja dan ide pendirian BMT ini.
3. Dengan restu dari tokoh paling berpangaruh itu, maka undanglah para sahabat yang telah didaftarkan tadi 5 – 10 orang untuk mendiskusikan lebih lanjut mengenai BMT ini dan kegiatan tindak lanjutnya. Sasaran pertemuan ini adalah membentuk sebuah Tim atau Panitia Penyiapan Pendirian BMT (P3B) yang ramping saja, misalnya 5 orang yang benar-benar punya waktu, bersemangat, paling aktip, berprakarsa, dan bersedia serta mau bekerja mengelindingkan kegiatan selanjutnya. P3B dapat terdiri dari Ketua dan Wakil Ketua, Sekretaris dan Wakil Sekretaris, dan Bendahara. Perlu sekali memilih Bendahara seorang tokoh yang benar-benar dipercayai oleh masyarakat, belum pernah tercatat pengalaman tercela untuk kepentingan umum sehingga orang tidak ragu-ragu menyerahkan (sementara) dana untuk modal BMT ini. Jika diperlukan dapat menunjuk dan meminta kesediaan Penasehat Tim yang terdiri dari tokoh-tokoh paling berpengaruh dalam masyarakat itu. Tugas P3B adalah:
a. P3B bertugas memperluas lagi dukungan sampai tercapai 20, 30 orang bahkan 40 orang pemrakarsa atau calon pendiri (3a, pada Gambar di atas),
b. Diharapkan P3B dapat mengumpulkan modal awal sebagai perangsang berapapun adanya dan segera menyimpan di Rekening Bank tersebut untuk keamanan (3 b)
c. Menggalang dana dari simpanan wajib, simpanan pokok dan simpakan pokok khusus dari para pendiri (3.c)
o Modal awal ini sebaiknya dikumpulkan dari kegotong royongan para pendiri (Simpanan Pokok Khusus: SPK) dari sekitar 20-44 orang pemrakarsa di kawasan perkotaan, hingga mencapai jumlah Rp. 20 sd Rp. 35 juta. Untuk kawasan pedesaan SPK antara Rp. 10 – Rp. 20 juta. SPK setiap orang tidak perlu sama antara satu pendiri dengan lainnya.
o Bersepakat menjadi pendiri dengan urunan modal pendirian masing-masing misalnya Rp. 500.000,- atau Rp. 1 juta, atau lebih diangsur tiap awal bulan Rp. 100.000,- atau Rp. 50.000,- selama 5 atau 10 kali angsuran; atau diangsur dalam dua kali panen masing-masing Rp. 250.000,- atau sesuai jumlah dan jadual lainnya yang disepakati. Angsuran ini ditagih tiap awal bulan atau awal panen oleh Pengelola BMT.
o Dari segi materi, Simpanan Pokok Khusus para pendiri ini, mendapat prioritas atau penghargaan yang lebih dari Sisa Hasil Usaha (SHU), selain juga mendapatkan porsi SHU lainnya sesuai dengan keterlibatannya dalam usaha-usaha BMT(penyimpan dan/atau peminjam). Dari segi non-materi, para pendiri BMT akan tercatat sepanjang masa, dan mulia lagi pasti akan dicatat oleh para Malaikat sebagai pemula dalam berbuat baik (“muhsinin”), yang akan diberikan ganjaran pahala berlipat ganda oleh Allah SWT baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, karena modal awal ini dimanfaatkan untuk maksud yang mulia memenuhi perintah Allah SWT (antara lain Q.s. Al Maa-‘uun, Q.s. Al Balad, dll).
o Mencari dukungan modal awal yang dapat berasal dari: BAZIS, Yayasan tertentu, aghniya tertentu di dalam Kecamatan itu, atau aghnia berasal dari Kecamatan itu tetapi sekarang berdomisili di luar, Pemerintah Daerah atau lainnya.
d. Mengadakan rapat pendirian yang dihadiri para pendiri/pemrakarsa antara lain membicarakan visi, misi, tujuan, usaha, cara kerja, manfaat BMT, dan memilih Pengurus BMT;
e. P3B Membuka Rekening Bank terdekat yang ditandatangani oleh Bendahara dan Ketua, yang hanya bisa dicairkan bila ditandatangani bersama: ada dua tandatangan itu.
f. Mencari calon-calon pendiri pemodal BMT dengan target mengumpulkan modal pendiri sekitar Rp. 20 – Rp. 30 juta rupiah untuk wilayah perkotaan,
g. Rp. 10 – 20 juta untuk wilayah perdesaan. Lebih besar dari itu akan lebih baik.
h. membuat pertemuan atau mendatangi calon-calon pendiri ini untuk memintakan komitmen tertulis mereka dengan janji angsuran modal awal
i. jika jumlah calon pendiri dan jumlah komitment dana telah memadai, maka buat rapat pembentukan BMT; pada rapat ini dibicarakan lagi visi, misi dan tujuan, usaha, serta cara kerja dan manfaat BMT sehingga jelas benar kepada semua calon pendiri.
4. Rapat Pendiri untuk memilih Pengurus BMT, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan anggota kalau perlu upayakan Pengurus dari orang yang memiliki pengaruh, memiliki dasar kemampuan mencari dukungan, diterima oleh masyarakat banyak; mengikuti urutan penyandang : “waktu, ilmu, akal, nama dan dana”. Khusus untuk Bendahara perlu ditunjuk tokoh yang benar-benar mendapat kepercayaan masyarakat, belum pernah tercatat pengalaman hal-hal yang tercela dalam sejarah di lokasi itu;
5. Pengurus yang terpilih segera mencari calon pengelola BMT yaitu lulusan S1 atau D3 yang selain berkemampuan intelektual memadai, juga kuat landasan iman dan akhlaknya, jujur, amanah dan aktif, dinamis, ikhlas, sabar, istiqomah, dan berprakarsa, memiliki potensi untuk bekerjasama, mampu bekerja purna waktu (sepenuh waktu dan hati). Yang bertempat tinggal di sekitar lokasi itu akan lebih baik.
6. Tenaga ini dilatih dan dimagangkan oleh PINBUK setempat selama 2 minggu sehingga menjadi tenaga pengelola profesional BMT. Tenaga ini perlu dipilih dan disetujui oleh para Pengurus dan tunduk pada kebijaksanaan/kekuasaan Pengurus.
7. Pengurus bersama pengelola melaksanakan persiapan-persiapan sarana kantor dan ATK serta form/berkas administrasi yang diperlukan sebagaimana yang distandarisasikan oleh PINBUK.
8. BMT Siap Beroperasi.
9. Pengurus bersama Pengelola BMT membuat Naskah Kerjasama kemitraan dengan PINBUK setempat, dan memproses sertifikat operasi BMT dari PINBUK Kabupaten/Kota, atau PINBUK Propinsi atau PINBUK Pusat. Kantor PINBUK Pusat, Gd. ICMI Center Lt. 4, Jl. Warung Jati Timur No. 1 Jakarta Selatan 12740 Telp. 021 – 79180980, 79192310 Facs.021–79192310 Email: pinbuk_pst@com
10. Jika BMT tersebut telah mencapai kekayaan/aset Rp. 75 juta, maka Pengelola BMT segera memohon Badan Hukum Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) kepada Dinas Koperasi dan UKM setempat .

Sumber : Buku Tata Cara Pendirian BMT
ditulis Oleh : Prof. DR. Ir. M. Amin Aziz